Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Pemprov Lampung Perketat Kesiapsiagaan, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

  • Diposting oleh:
  • Diposting pada:
  • Kategori:
    Bandar LampungBandar Lampung
  • Sistem:
    Tidak diketahui
  • Harga:
    USD 0
  • Dilihat:
    7

Bandar Lampung

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan meningkatkan perlindungan diri di tengah paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak menurunkan kewaspadaan selama aktivitas vulkanik masih fluktuatif.

“Yang pertama tetap tenang dan jangan panik, tetapi jangan pula kita menurunkan kewaspadaan,” ucap Wakil Gubernur Jihan Nurlela dalam konferensi pers di Ruang Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Senin (7/9/2026). Ia meminta warga yang masih terdampak abu menggunakan masker dan alat pelindung lain ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Konferensi pers tersebut digelar Pemerintah Provinsi Lampung untuk menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta dampaknya terhadap masyarakat. Hingga Senin, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Wagub Jihan mengatakan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai terpantau sejak 4 September 2026. Aktivitas vulkanik kemudian meningkat pada 5 September dan disertai erupsi serta sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah Lampung dan daerah lainnya.

Pada Senin, aktivitas gunung masih bersifat fluktuatif. Dalam pemantauan pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB, tercatat sembilan kali gempa harmonik, 17 kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa hembusan atau fase banyak, serta satu kali tremor terus-menerus.

Wagub Jihan menjelaskan kondisi gunung yang secara visual terlihat lebih tenang tidak berarti aktivitas vulkaniknya telah berhenti. Berdasarkan pemantauan, aktivitas di dalam gunung masih berlangsung sehingga masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap berhati-hati.

Perhatian pemerintah kini tidak hanya tertuju pada aktivitas vulkanik, tetapi juga dampak abu terhadap kesehatan. Pemerintah Provinsi Lampung menemukan adanya tren peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sejumlah wilayah, meski data keseluruhan masih dalam proses inventarisasi.

Pemeriksaan sampel abu vulkanik oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menunjukkan terdapat partikel berukuran sekitar 5 hingga 10 mikrometer dengan permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam. Partikel tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Karena itu, Wagub Jihan meminta masyarakat yang berada di wilayah terdampak membatasi aktivitas fisik di luar rumah. Jika aktivitas di luar tidak dapat dihindari, warga diminta menggunakan masker, baju lengan panjang, serta pelindung mata seperti kacamata atau goggles.

Perhatian khusus juga diminta diberikan kepada kelompok rentan, yakni anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Mereka perlu diawasi lebih intensif oleh keluarga dan petugas kesehatan selama paparan abu vulkanik masih berlangsung.

Masyarakat juga diminta menutup pintu dan jendela rumah ketika paparan abu masih terjadi. Saat membersihkan abu, warga dianjurkan tidak menyapunya dalam kondisi kering agar abu tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Wagub Jihan mengatakan pemerintah terus memantau kualitas udara di wilayah terdampak. Di Bandar Lampung, hasil pemantauan pada 5-6 September menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO2) berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram per meter kubik.

Dari sisi pelayanan kesehatan, seluruh puskesmas dan rumah sakit telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama fasilitas kesehatan di wilayah yang relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Tenaga kesehatan, obat-obatan, bahan medis habis pakai, oksigen, hingga sistem rujukan disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kebutuhan pelayanan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Djohan Lius mengatakan pihaknya telah menerbitkan surat edaran kepada Dinas Kesehatan kabupaten dan kota untuk meningkatkan kewaspadaan. Sebanyak 15 kabupaten/kota juga telah dibagi ke dalam lima regional sistem rujukan rumah sakit.

Dinas Kesehatan juga telah mengajukan 37 item obat dan bahan medis habis pakai kepada Kementerian Kesehatan untuk mengantisipasi kebutuhan selama kondisi darurat. Djohan meminta masyarakat tidak panik membeli masker karena persediaan di Dinas Kesehatan Provinsi Lampung masih memadai, dengan distribusi diprioritaskan ke daerah terdampak dan institusi yang membutuhkan.

Data sementara menunjukkan dampak kesehatan mulai terlihat di Kabupaten Tanggamus. Pada 5 September tercatat 52 kunjungan ke fasilitas kesehatan dengan 46 kasus ISPA, kemudian pada 6 September jumlah kunjungan meningkat menjadi 158 dengan 76 kasus ISPA.

Untuk mengurangi paparan abu yang telah berada di ruang publik, Wagub Jihan meminta pemerintah kabupaten dan kota turut aktif melakukan penyiraman. Pemadam kebakaran dapat digunakan untuk menyiram ruang publik dan kawasan dengan tingkat pelayanan serta mobilitas masyarakat yang tinggi.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan mengatakan Pemprov Lampung menetapkan Pusdalops BPBD sebagai posko informasi dan pemantauan. Posko tersebut disiagakan selama 24 jam agar informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau yang diterima masyarakat berasal dari sumber yang valid.

Pemerintah Provinsi Lampung juga belum menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). Pemprov Lampung masih menunggu perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau serta arahan dari pemerintah pusat dan lembaga terkait.

Sekda mengatakan aktivitas pemerintahan tetap berjalan seperti biasa. ASN masih bekerja sesuai jam kerja, dengan penyesuaian di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD).

Menurut Marindo, opsi WFH baru akan dipertimbangkan apabila terjadi erupsi kembali yang berdampak signifikan terhadap kualitas udara dan kondisi lingkungan. Kebijakan tersebut juga akan disesuaikan dengan arahan pemerintah pusat mengenai penanganan situasi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Lebih jauh Wagub Jihan menambahkan, pemerintah belum dapat memastikan kapan paparan abu vulkanik akan sepenuhnya berakhir karena sangat bergantung pada aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ia juga meminta masyarakat mengikuti informasi dari kanal resmi pemerintah dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Yang paling penting teman-teman media mohon bantuannya agar tidak menambahkan kepanikan di masyarakat untuk dapat men-deliver informasi yang baik, sebaik-baiknya,” ujar Wagub. Ia memastikan Pemprov Lampung terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keselamatan masyarakat sekaligus memastikan pelayanan publik tetap berjalan.

Dengan pembatasan aktivitas di luar rumah, penggunaan alat pelindung diri, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan, serta penyampaian informasi melalui satu pusat kendali, pemerintah berharap risiko kesehatan akibat abu vulkanik dapat ditekan. Masyarakat Lampung pun dapat tetap beraktivitas secara lebih aman dengan kewaspadaan yang terjaga tanpa diliputi kepanikan. (Pemerintah Provinsi Lampung).

Rating

0

( 0 Votes )
Silahkan Rating!
Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Pemprov Lampung Perketat Kesiapsiagaan, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

No votes so far! Be the first to rate this post.