- Diposting oleh:
- Diposting pada:
- Kategori:
JakartaJakarta - Sistem:
Tidak diketahui - Harga:
USD 0 - Dilihat:
7
Jakarta
Pertemuan pimpinan Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai menunjukkan bahwa perbedaan ideologi tidak harus menjadi penghalang untuk membangun dialog dan saling belajar dalam kehidupan demokrasi.
Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) sekaligus Fungsionaris Akademi Partai Golkar (APG), Phirman Rezha, mengapresiasi pertemuan kedua partai yang berlangsung di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Phirman, meski memiliki latar belakang politik yang berbeda, Golkar dan PKS memiliki kesamaan penting dalam hal perhatian terhadap kaderisasi.
“Golkar dan PKS memang berbeda secara ideologi dan tradisi politik. Tetapi keduanya memiliki satu kesamaan penting, yaitu sama-sama memahami bahwa kaderisasi merupakan bagian penting dari kekuatan dan keberlanjutan sebuah partai,” ujar Phirman.
Ia mengatakan Golkar memiliki tradisi nasionalis dan kekaryaan, sementara PKS memiliki akar tradisi politik Islam. Perbedaan tersebut, menurutnya, justru dapat menjadi ruang untuk saling memperkaya pengalaman.
“Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa saling belajar. Justru karena memiliki latar belakang yang berbeda, masing-masing bisa melihat pengalaman politik dari perspektif yang berbeda pula,” katanya.
Phirman menilai kekuatan partai politik tidak hanya ditentukan oleh hasil elektoral, tetapi juga kemampuan melahirkan kader yang memiliki kapasitas, integritas, wawasan kebangsaan, dan kesiapan memimpin.
“Partai yang kuat bukan hanya partai yang mampu memenangkan pemilu. Partai yang kuat adalah partai yang mampu menyiapkan kader untuk menjadi pemimpin ketika bangsa membutuhkan,” ujarnya.
Sebagai Fungsionaris Akademi Partai Golkar, Phirman berharap komunikasi antara Golkar dan PKS dapat berkembang hingga ke tingkat kader, khususnya generasi muda.
“Akan menarik jika komunikasi ini juga diteruskan di level kader muda. Bukan untuk menyamakan ideologi, tetapi untuk bertukar pengalaman mengenai kepemimpinan, pendidikan politik, kaderisasi, dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Phirman.
Ia menegaskan bahwa kompetisi dan dialog merupakan dua hal yang dapat berjalan bersamaan dalam demokrasi.
“Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi kepentingan bangsa harus tetap menjadi titik temu. Kaderisasi adalah investasi demokrasi,” pungkasnya.
